TANJUNG REDEB - Petani di sentra perkebunan lada Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, resah karena harga komoditas lada menurun. Apalagi kondisi ini terjadi sejak 5 tahun terakhir.

Menuturkan Erwin, salah seorang petani lada, saat ini harga lada turun mencapai 70 persen. Jika sebelumnya harga mencapai Rp 160 ribu per kilogram, kini harga jual lada di tingkat petani hanya berkisar Rp 40.000-Rp 45.000 per kilogram. Harga itu merupakan yang terendah selama kurun waktu lima tahun terakhir. “Sudah lama ini anjlok,” ucapnya.

Dijelaskan Erwin, penjualan biasa dilakukan langsung ke pengepul yang datang ke kampung mereka. Sehingga harga yang ditentukan oleh pengepul tidak bisa ditolak para petani. Jika petani menolak, tentu risikonya hasil panen tidak akan dibeli oleh pengepul.

“Pengepul yang ambil langsung ke petani dengan harga yang sudah ditentukan. Kalaupun kami menjual dengan harga yang lebih tinggi, pengepul tidak mau beli,” sambungnya.

Dijelaskan Erwin, harga lada sebenarnya mulai turun sejak 2016 lalu. Lima tahun berjalan, masyarakat yang menggantungkan hidupnya di perkebunan lada hanya bisa pasrah menera harga yang terus mengalami penurunan. Tidak sedikit warga yang terpaksa menjual ladangnya dan membuka usaha lain.

“Pertama turun pada tahun 2016, berlanjut 2017 menjadi Rp 80 ribu per kilogram. Harga terus turun hingga saat ini," tuturnya.

Ia menambahkan, mayoritas penduduk Kampung Merancang Ilir bermata pencaharian sebagai petani lada. Bahkan lada merupakan sumber penghasilan utama bagi masyarakat sejak pertama mendiami kampung tersebut. "Sudah lama masyarakat di sini jadi petani lada, disusul padi. Kalau yang menjadi nelayan hanya sedikit," ucapnya.

Ia berharap agar pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat membantu menemukan solusi terkait permasalahan yang dialami petani lada. Sebab lada merupakan salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Berau. “Semoga saja pemkab bisa membantu dan mencarikan solusinya," harapnya. (hmd/har)