TANJUNG REDEB - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau tak bisa memenuhi target Program Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS) dari Kementerian Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak 200 hewan ternak setiap tahun. Hal itu diutarakan Kasi Bina Usaha, Promosi dan Pemasaran Hasil Peternakan, Distanak Berau, Widodo.

Ia menjelaskan, sejak tahun 2018 pihaknya telah diberi target Dinas Peternakan Provinsi Kaltim untuk menjalankan program AUTS sebanyak 200 ternak. Namun, pada 2020 dan tahun ini, pihaknya belum bisa memenuhi target tersebut.

Dirinya menyebut, pada 2020 lalu pihaknya hanya mampu mencapai 199 hewan ternak dari sembilan kelompok. Kemudian hingga Okober ini, baru 130 ternak dari empat kelompok yang terdaftar.

“Pada tahun 2018 target kami tercapai dan mendapatkan 231 sapi yang diikutkan asuransi yang berasal dari 10 kelompok, di 2019 realisasi kami 417 dari 17 kelompok,” jelasnya, Jumat (22/10)

Ia menjelaskan, tak tercapainya target tersebut, dikarenakan adanya pandemi Covid-19. Sehingga membuat pihaknya tidak bisa mensosialisasikan program dengan maksimal.

“Pandemi juga menyebabkan Jasindo (perusahaan asuransi) menutup kantor cabang di Berau. Kalau di Berau ini kan kita koordinasinya enak,” ungkapnya.

Menurut Widodo, manfaat program asuransi ini sangat dirasakan oleh peternak. Karena hanya dengan membayar premi sebanyak Rp 40 ribu per tahun, peternak berhak menerima klaim sebesar Rp 10 juta apabila terjadi sesuatu terhadap hewan ternak yang didaftarakan asuransi.

“Sebenarnya premi sebesar Rp 200 ribu, tetapi pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp 160 ribu,” ucapnya.

Di sisi lain, ia menambahkan, adanya perubahan aturan dari pihak perusahaan asuransi, turut andil tak tercapainya target program AUTS. Sebab, pihak perusahaan tidak membolehkan peternak semi intensif untuk mengikuti program ini.

“Aturan ini dilakukan untuk mempermudah kontrol yang dilakukan oleh petugas,” sambungnya.

Lebih lanjut, Widodo mengungkapkan, pihaknya hingga saat ini baru bisa menjangkau peternak yang ada di kecamatan dekat. Sedangkan masih kesulitan menjangkau peternak di kecamatan terjauh.

Apaagi, ia mengungkapkan, Distanak Berau hanya memiliki satu petugas di setiap kecamatan. Dan dokter hewan hanya tersedia di Kecamatan Tanjung Redeb dan Kecamatan Talisayan.

“Jadi petugasnya harus pro aktif, kalau dari tanjung sini ke daerah pesisir misalnya, itu kan kasihan petugasnya. Sedangkan kematian ternakkan tidak bisa diduga waktunya kapan,” pungkasnya. (hmd/arp)