TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau, Iswahyudi mengkhawatirkan peningkatan Covid-19 menjelang libur Natal dan tahun baru (Nataru) 2021. 

Dijelaskannya, kekhawatiran itu didasarkan karena takut masyarakat lengah dengan protokol kesehatan (prokes). Apalagi, perayaan Nataru kerap dilakukan masyarakat dengan berkumpul-kumpul. Sementara kasus Covid-19 di Berau saat ini belum hilang 100 persen. 

“Khawatir itu pasti. Kita antisipasi lah, jangan sampai ada lagi kasus meledak di Berau,” tegasnya. Saat ini status beberapa wilayah Berau didominasi zona kuning dan hijau. 

Ia melanjutkan, gelombang ketiga Covid-19 sulit untuk diprediksi. Terlebih, varian delta sudah pernah masuk ke Berau, dengan gejala yang parah. Bahkan, angka kematian akibat varian tersebut cukup besar. 

“Di sini peran masyarakat sangat besar. Kesadaran diri untuk menjaga prokes sangat penting,” tuturnya.

Dirinya pun tak ingin akhir tahun 2021 nanti, menjadi periode gelombang ketiga Covid-19. Seiring pascalibur panjang Natal dan tahun baru. 

“Pencegahan sejak dini sebaiknya dilakukan Satgas Covid-19 baik ditingkat kabupaten, kecamatan hingga RT,” ujarnya.

“Karena kita tidak bekerja sendiri. Semua ikut berperan dalam hal pencegahan ini,” sambungnya.

Lebih lanjut, masyarakat diingatkan Iswahyudi harus belajar dari gelombang kedua Covid-19 yang terjadi pada Juli lalu. Sehingga hal serupa tidak kembali terjadi lagi. 

Selain itu, Dinkes Berau diterangkannya selalu mensiagakan personil kesehatan dan peralatan medis. Khawatir apabila kembali terjadi lonjakan kasus Covid-19. Bahkan, Rumah Sakit Darurat (RSD) Cantika Swara siap kembali dibuka, jika Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, sudah tidak bisa menampung pasien lagi.

“Tidak ada jaminan, seseorang yang sudah pernah kena, tidak terpapar lagi. Begitu juga yang sudah vaksin, tetap bisa terpapar. Intinya prokes,” tegasnya.

Karena itu, ia berharap, pengelola tempat wisata bisa membatasi jumlah pengunjung yang datang saat libur Nataru. Supaya tidak muncul klaster baru. “Tentu berdampak kepada perekonomian lagi, jika sampai terjadi klaster lokal. Dan otomatis, lokasi itu akan ditutup sementara,” pungkasnya. (hmd/arp)