TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau Iswahyudi, merilis tambahan lima kasus Covid-19 di Berau, Senin (25/10). Yakni empat kasus di Kelay dan satu kasus di Gunung Tabur.

Dengan tambahan empat kasus, maka kasus aktif di Kelay menjadi tujuh kasus. Sama dengan jumlah kasus di Tanjung Redeb. Sementara di Gunung Tabur, dengan tambahan tersebut, maka kasus aktif menjadi dua kasus.

“Yang di Kelay klaster perusahaan. Itu hasil tracing kita, terdapat empat kasus baru di sana (Kelay, red),” katanya kepada Berau Post kemarin. Sementara pasien asal Gunung Tabur dengan kode Berau 13.189, merupakan klaster lokal.

Dengan tambahan lima kasus aktif itu, maka jumlah kasus aktif di Berau menjadi 25. “Mereka (pasien terkonfirmasi Covid-19) isolasi mandiri semua,” katanya.

Ia menjelaskan, saat ini kasus terkonfirmasi di Berau mencapai 13.189 orang. Sedangkan yang dinyatakan sembuh sebanyak 12.755 jiwa dan meninggal dunia sebanyak 409. Untuk angka kesembuhan menurut Iswahyudi sudah mencapai 96,7 persen.

“Untuk kasus terkonfirmasi per hari hanya 0,2 persen saja,” ujarnya.

Dengan tambahan kasus tersebut, sebanyak enam kecamatan berstatus zona hijau. Yakni, Segah, Pulau Derawan, Batu Putih, Talisayan, Bidukbiduk, dan Tabalar. Sedangkan Maratua yang sempat juga berada di zona hijau, masuk zona kuning karena ada satu kasus aktif. Yakni dari Kampung Payung-Payung.

“Kasus tertinggi masih untuk Tanjung Redeb dan Kelay, masing-masing tujuh kasus,” paparnya. Sementara di Teluk Bayur dan Biatan terdapat tiga kasus, Sambaliung dan Gunung Tabur dua kasus.

Iswahyudi mengingatkan agar masyarakat jangan lengah walau berada di kecamatan zona hijau. Karena virus Covid-19 masih ada di Berau. “Tetap santai. Jangan terlalu berlebihan, dan yang pastinya protokol kesehatan,” imbuhnya.

TAK ADA RAZIA

Walau ada tambahan, namun jumlah kasus secara keseluruhan sudah melandai, dibanding saat puncak Covid-19 di Berau, beberapa bulan lalu.

Dengan pergerakan kasus tersebut, Iswahyudi tetap meminta masyarakat agar mematuhi protokol kesehatan (Prokes). Terutama selalu menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. “Satuan tugas (Satgas) saat ini memang tidak melakukan kegiatan razia lagi, tapi bukan berarti masyarakat bisa seenaknya saja tidak mematuhi prokes,” ujarnya.

Selain itu, jumlah masyarakat yang bepergian ke luar daerah disebutnya juga mulai mengalami peningkatan. Sebab saat ini, para pelaku perjalanan sudah tidak diwajibkan lagi melakukan isolasi mandiri. “Tidak ada memang untuk pelaku perjalanan melakukan isolasi, tetapi saya meminta kesadaran masyarakat saja, jika dari luar daerah tidak langsung berkumpul, yang ditakutkan nantinya membawa virus,” katanya.

Namun, bagi pelaku perjalanan dari luar negeri, tetap diwajibkan melakukan karantina selama lima hari di Jakarta. “Jadi di Jakarta nanti mereka karantinanya, sebelum ke daerah tujuan. Tapi jika hanya dari luar daerah, itu tidak ada,” jelasnya.

Beberapa masyarakat yang dimintai komentarnya mengenai kondisi Covid-19 di Berau, juga sepakat dengan Iswahyudi agar prokes jangan sampai longgar.

Seperti diutarakan Hendry, warga Jalan Karang Mulyo, Kelurahan Karang Ambun. Menurutnya, walau angka kasus sudah menurun, masyarakat jangan terlena dan tetap patuh terharap protokol kesehatan. “Karena ini untuk kepentingan kita bersama. Kalau nanti Berau benar-benar sudah bebas dari corona, kan kita semua juga yang merasakan manfaatnya. Tidak takut-takut lagi, normal lagi,” ujarnya pegawai di salah satu perusahaan swasta yang ada di Berau.

Hal senada disampaikan Hamid, warga Gunung Tabur. “Intinya taat prokes, selalu pakai masker. Kalau kita semua bisa saling menjaga, Berau bisa sampai nol kasus,” katanya. (hmd/aky/udi)