TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau Masrani, mengakui saat ini terdapat tiga pantai yang rawan hilang akibat abrasi. Ketiga pantai tersebut adalah, Pantai di Pulau Derawan, di Kampung Payung-Payung, dan Pulau Kaniuangan.

Dengan abrasi yang setiap tahunnya terjadi, menjadi ancaman nyata bagi Berau, akan kehilangan wisata bahari yang saat ini menjadi kebanggaan Bumi Batiwakkal. Terlebih, tiga kawasan tersebut masuk dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

“Untuk yang terparah itu ya Derawan,” ujarnya. Disebutnya, Pulau Derawan setiap tahunnya kehilangan 1 hingga 2 meter daratannya akibat abrasi. Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Disbudpar.

“Tidak menutup kemungkinan, Derawan, Payung-Payung, dan Kaniungan, di masa depan hanya akan menjadi cerita,” katanya. Ia melanjutkan, upaya penanganan dengan pengusulan program sudah dilakukan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Berau, guna diajukan ke pemerintah provinsi dan diteruskan ke pusat.

“Kita akan usahakan karena ini urgensinya tinggi, selain itu abrasi juga mengancam sumber air bersih masyarakat, khususnya di Pulau Derawan,” tuturnya. Walau dianggap mendesak, Masrani justru pesimistis penanganan abrasi dengan memasang pemecah ombak bisa terlaksana segera. Sebab pihaknya sendiri belum memiliki masterplan pariwisata. 

“Kemungkinan program kita ini bisa saja ditolak, karena kita belum memiliki masterplan. Makanya kami memprioritaskan juga untuk pembuatan masterplan pariwisata kita,” ucap Masrani.

Ia menambahkan, adanya pemecah ombak di beberapa pulau yang menjadi destinasi wisata di Bumi Batiwakkal, memiliki peran yang sangat penting. Jangan sampai destinasi wisata yang sudah mendunia ini, nantinya hanya tinggal nama karena sudah tergerus ombak. “Nanti orang datang ke sini jadi bingung karena tinggal nama,” pungkasnya. (hmd/udi)