TANJUNG REDEB – Angka kemiskinan di Berau tahun 2021 mencapai 13,62 ribu jiwa atau 5,88 persen dari total penduduk Berau sebanyak 253.979 jiwa. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yakni 12,30 ribu jiwa atau 5,19 persen dari jumlah penduduk sebanyak 248.035 jiwa.

Menurut Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS) Berau, Lita Hakim, untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan, yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.

“Memang ada peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi pada tahun 2018 sempat mengalami penurunan,” katanya ketika ditemui kemarin (9/12).

Data menunjukan pada tahun 2018, angka kemiskinan di Berau, hanya 11,33 ribu, atau 5,04 persen. Sedangkan pada tahun 2017 angka kemiskinan di Berau mencapai 11,86 ribu, atau setara dengan 5,41 persen. Dijelaskan Lita, garis kemiskinan berbeda-beda setiap tahunnya, dan terus mengalami peningkatan angkanya.

“Seusia dengan pertumbuhan ekonomi pusat untuk menghitung garis kemiskinannya, yakni pendapata per kapita dalam sebulan,” ujarnya.

Dijelaskan Lita, Garis Kemiskinan (GK) merupakan penjumlahan dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non Makanan (GKNM). Penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah GK, dikategorikan sebagai penduduk miskin. GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2.100 kilokalori per kapita per hari. Paket komoditi kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditi, seperti padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak dan lemak, dan lainnya. GKNM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditi kebutuhan dasar non makanan diwakili oleh 51 jenis komoditi di perkotaan dan 47 jenis komoditi di pedesaan.

“Faktor terbesarnya Berau alami kenaikan (angka kemiskinan, red) ini karena kemarin itu pandemi Covid-19,” bebernya.

Ia melanjutkan, angka kemiskinan memang berpengaruh besar pada angka pengangguran di Berau yang juga mengalami peningkatan di tahun 2021. Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), berada di angka 5,08 persen atau 5.765, kemudian di 2021 jumlah TPT adalah 5,82 persen, atau 6.557 jiwa.

“Meningkat 0,74 persen atau 792 orang dibanding tahun lalu,” bebernya.

Dikatakan Lita, dalam tujuh tahun terakhir persentase TPT paling rendah di Bumi Batiwakkal berada pada tahun 2017 dengan jumlah 4,75 persen. Sedangkan pada tahun sebelumnya, yakni 2016 tidak ada data TPT Kabupaten Berau. Di tahun 2015 5,72 persen penduduk berau yang termasuk kedalam TPT. Sedangkan pada tahun 2018 persentase TPT berjumlah 5,45 persen, dan mengalami penurunan di tahun 2019 menjadi 4,95 persen.

“Memang angka TPT kita cenderung stabil di angka 5 persen,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Berau menduduki peringkat keempat tertinggi persentase TPT di Kalimantan Timur, setelah Kota Bontang, Balikpapan, dan Samarinda. Sedangkan untuk tahun ini, TPT didominasi oleh perempuan yakni tahun 2020 lalu hanya 1.430, namun di tahun ini mencapai 2.241 jiwa. Sedangkan untuk laki-laki, tahun 2020 sebanyak 4.335 dan tahun ini menurun menjadi 4.316 jiwa.

“TPT di wilayah kota memang cenderung lebih tinggi dibanding dengan kabupaten,” tuturnya.

Selain itu, dikatakan Lita, Kabupaten Berau mengalami penurunan pada Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada periode Agustus 2020 hingga Agustus 2021. Tahun 2020 TPAK di berau berada pada angka 67,40 persen atau 113.389 jiwa, sedangkan di tahun 2021 turun menjadi 65,55 persen atau 112.606 jiwa. Sehingga dapat disimpulkan Kabupaten Berau mengalami penurunan TPAK sebesar 1,85 persen.

“Dari 10 kabupaten/kota di Kaltim hanya 3 yang tidak mengalami penurunan TPAK,” katanya.

Sementara itu, Plt Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Berau Agus Wahyudi mengatakan, angka kemiskinan di Berau memang terjadi sedikit kenaikan. Tahun 2020 mencapai 5,19 persen dibanding tahun 2019 yakni 5,04 persen. Hal ini disebabkan oleh dampak pandemi Covid-19 di mana beberapa kegiatan ekonomi masyarakat mengalami penurunan.

“Tapi bila kita bandingkan dengan semua kabupaten yang ada di Kaltim, Berau paling rendah angka kemiskinannya,” katanya.

Ia mengatakan, Pemkab Berau sudah menyiapkan upaya penanganan jangka pendek, jangaka menengah, dan jangka panjang, dalam penanganan kemiskinan di Bumi Batiwakkal.(hmd/udi)