TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Salim, akui pasar kebanggaan masyarakat Kabupaten Berau yakni Pasar Sanggam Adji Dilayas (PSAD) belum mengantongi sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI).

Untuk mencapai hal tersebut, banyak yang harus dibenahi di sana, seperti aktivitas dan digitalisasi pasar, penerapan prokes, serta pengelolaan berkelanjutan. Hal itu sesuai dengan SNI 1852 tentang Pasar Rakyat, yang kini menjadi SNI 8152 tahun 2021.

Dijelaskan Salim, saat ini pihaknya tidak hanya berpangku tangan untuk meraih sertifikat SNI tersebut. Diakuinya, banyak persiapan yang harus dilakukan guna pembenahan infrastruktur, penataan lokasi, serta pasar juga harus memiliki ruang terbuka hijau.

“Misal pedagang yang menyewa kios 3x4, dagangannya tidak boleh melebihi batas rolling door. Dan mereka wajib mencamtumkan label harga,” katanya diwawancara belum lama ini.

Terkait dengan penataan, dijelaskan Salim, banyak pedagang yang tidak memiliki gudang penyimpanan, sehingga barang dagangan terpaksa dilakukan bongkar muat di bagian toko. Diakuinya, cukup sulit untuk memberikan pemahaman kepada para pedagang akan hal itu.

“Bahkan pedagang yang lokasinya di pinggir ada yang memasang terpal tambahan untuk memajang barang dagangannya. Sebenarnya itu melanggar standar SNI,” ucapnya.

Namun dipastikan Salim, selama ini pihaknya tidak diam, pihaknya sudah kerap melakukan sosialisasi terkait penertiban, para pedagang pun ndiakuinya setuju dengan imbauan tersebut, guna membantu PSAD mencapai standar tersebut.

“Memang sulit kalau langsung ditertibkan semua sekaligus, makanya kami pelan-pelan sedang menuju ke sana,” jelasnya.

Lanjutnya, SNI sangat penting bagi operasional pasar rakyat dan aktivitas belanja yang lebih nyaman, tidak merusak pemandangan, rapi dan tidak kumuh. Sementara dari segi kebersihan, klaimnya Pasar Sanggam Adji Dilayas sudah memenuhi standar SNI.

“Para pedagang diharapkan kerja samanya untuk bersama-sama meraih SNI. Karena di Kaltim belum ada pasar yang ber-SNI. Mari menjadi yang pertama di Kaltim,” imbuhnya.(hmd/sam)