TANJUNG REDEB – Volume hujan yang meningkat sejak satu pekan terakhir mengakibatkan beberapa kawasan di Bumi Batiwakkal -sebuatan Kabupaten Berau- tergenang.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Berau, Yudi Artinggali menyebut, salah satu faktor penyebab munculnya genangan ialah, semakin banyaknya pertumbuhan permukiman, khususnya di Kecamatan Tanjung Redeb.

“Ya sesuai dari teknis, pertumbuhan pemukiman juga jadi pengaruh adanya genangan. Tapi ada fakta yang cukup menarik, ialah genangan yang terjadi justru bukan di kawasan kumuh,” katanya kepada awak media belum lama ini.

Disebutnya, total kawasan kumuh di Berau terdapat 28 hektare, paling banyak terdapat di Kecamatan Sambaliung, Teluk Bayur, dan Gunung Tabur. Bukannya di Kecamatan Tanjung Redeb yang memiliki lebih banyak titik kawasan genangan.

Untuk mencegah terjadinya genangan dengan semakin banyaknya permukiman, dia turut mengimbau agar masyarakat memaksimalkan fungsi drainase dengan melaksanakan kerja bakti, membersihkan sedimen di dalamnya, sehingga air tidak tersumbat hingga meluap ke jalanan.

“Memang untuk imbauan seperti ini adalah tupoksi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK). Tapi tidak bisa dimungkiri, dengan adanya kerja bakti itu bisa mencegah terjadinya genangan,” katanya.

Sebelumnya, Wakil Bupati Gamalis mengungkap, persoalan genangan ini tidak hanya disebabkan oleh satu faktor semata. Yaitu saluran drainase yang tidak berjalan baik hingga dangkal. Melainkan adanya faktor lain seperti perilaku buang sampah sembarangan oleh masyarakat.

 “Drainase yang dangkal, serta masyarakat membuang sampah sembarangan tentu menjadi salah satu penyumbang terjadinya genangan,” bebernya.

Apalagi saat ini curah hujan di wilayah Kabupaten Berau, disebutnya tengah tinggi. Sehingga, meski diguyur beberapa jam, beberapa wilayah sudah ada yang tergenang hingga genangan. “Jadi perlu pengerukan dan pembenahan segera mungkin,” imbuhnya.

Ia pun menyoroti masih banyaknya saluran anak sungai yang mengalir ke Sungai Segah dan Kelay tertutup, akibat pendirian bangunan. Sehingga ketika volume air cukup besar, tidak mampu dialirkan dengan baik dan menyebabkan meluap ke badan jalan.

Karena itu, permasalahan genangan ini menjadi fokus utama pihaknya. Selain adanya bencana alam seperti longsor. Genangan yang kerap terjadi akibat hujan dalam hitungan jam, dinilainya ada sesuatu yang salah.

Instansi-instansi terkait pun dimintanya segera melakukan evaluasi, terhadap daya tampung drainase dan parit-parit yang belum berjalan optimal. Seperti yang baru-baru ini didapatinya, di mana ada drainase yang tersumbat akibat rumput liar dan sedimentasi hingga sampah. “Selain tertutup rumput, aliran itu juga ada yang tertutup tiang bangunan warga,” ungkapnya.(aky/sam)