TANJUNG REDEB - Guna menjamin timbangan atau takaran yang digunakan sudah tepat dan benar. Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Diskoperindag Kaltara dalam melaksanakan tera ulang.

Dijelaskan Kepala Diskoperindag Berau, Salim, sebenarnya Kabupaten Berau juga memiliki peralatan alat tera ulang, tetapi Kaltara dinilai memiliki peralatan yang lebih canggih dan lengkap.

“Sebenarnya kita juga ada, tetapi masih belum lengkap, maka dari itu kami bekerja sama dengan Kaltara,” ujarnya belum lama ini.

Katanya, salah satu alasan pihaknya menggandeng Kaltara karena lokasinya cukup dekat dengan Berau. Sehingga tidak memakan biaya yang mahal untuk akomodasi, serta perjalanan tidak memakan waktu lama untuk meminjam atau mengembalikannya.

“Jadi kami saling share peralatan. Kalau mereka tidak punya alat tera ulang jenis tertentu mereka bisa pinjam dari sini (Berau, red). Kami juga belum ada anggaran besar untuk membeli alat-alat yang mahal,” terangnya.

Dijelaskannya, tera ulang dilakukan guna menjamin timbangan atau takaran yang digunakan sudah tepat dan benar. Dengan demikian, konsumen dapat memperoleh barang yang sesuai dengan ukuran seharusnya dengan nilai tukar yang dibayarkan.

Untuk melakukan tera ulang juga sambungnya, diperlukan tenaga ahli. Adapun di Berau, sudah ada dua orang yang telah memiliki sertifikasi khusus di bidang tera ulang.

Kadang tidak bisa menangani semua permintaan tera ulang yang masuk. Terutama permintaan dari perusahaan kelapa sawit maupun tambang.

“Karena perusahaan itu tidak bisa beroperasi kalau syarat tera ulang belum dilakukan. Dan itu tidak bisa selesai dalam satu hari karena memang prosesnya lama,” jelasnya.

Jumlah SDM yang sedikit, merupakan salah satu kendala yang dihadapi Diskoperindag Berau. Diakuinya, setiap hari datang permintaan tera ulang, permintaan paling banyak dari perusahaan kelapa sawit.

Tahun lalu saja, capaian pendapatan asli daerah (PAD) dari tera ulang cukup tinggi yaitu sekira Rp 200 juta dari target Rp 170 juta.

“Biaya tergantung sulitnya. Jika menggunakan peralatan yang semakin canggih, biayanya akan semakin mahal juga. Mungkin sekira Rp 300 ribu sampai Rp 5 juta sekali tera ulang,” tandasnya. (aky/sam)