TANJUNG REDEB – Pemerintah pusat telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) terbaru terkait harga eceren tertinggi (HET) baru komoditas gula pasir. Per kilogram menjadi Rp 13.500 dari sebelumnya Rp 12.500 per kilogram.

Kepala Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) Berau, Apriansyah mengakui, pihaknya telah menerima surat edaran (SE) Kementerian Perdagangan (Kemendag) Nomor 6/2022 perihal harga jual gula kristal putih atau gula pasir di tingkat konsumen. "Memang saat ini ada kenaikan harga gula pasir sebesar Rp 1.000," ujarnya kepada Berau Post Senin (21/3) lalu.

Apriansyah menerangkan, SE tersebut dikeluarkan sehubungan dengan berkurangnya komoditas gula secara nasional. Dan beluk optimalnya pasokan gula hasil produksi dalam negeri yang memicu kenaikan harga gula di tingkat konsumen. Selain itu, mempertimbangkan usulan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). "Tujuannya tetap untuk menstabilkan penyediaan gula dengan harga terjangkau bagi masyarakat," jelasnya.

Dengan adanya SE tersebut maka diharapkan semua pelaku usaha ritel modern menjual gula kepada konsumen akhir dengan harga jual paling tinggi Rp 13.500 per kilogram. "Ketentuan tersebut berlaku sejak 17 Maret lalu. Tapi, masih berupa SE belum tertuang dalam peraturan," tuturnya. "Jadi kalau di ritel masih ada yang jual di atas HET berarti tidak sesuai," tambahnya.

Dikatakannya bukan berarti dengan adanya SE ini akan ada kelangkaan gula pasir. Tetapi, ini meminimalisasi terjadinya kelangkaan. “Yang kita takutkan nanti masyarakat malah takut, jadi saya tegaskan bahwa stok gula kita masih aman,” imbuhnya.

Sementara itu, per 21 Maret stok gula pasir di gudang Perum Bulog sekira 62 ton. Pihaknya berasumsi stok tersebut cukup memenuhi kebutuhan masyarakat di Kabupaten Berau hingga Idulfitri 2022. Dengan asumsi kebutuhan penyaluran gula pasir dalam sebulan sebanyak 50 ton. 

Dikatakannya, belum ada tambahan gula yang masuk dalam waktu dekat. Namun berdasarkan perhitungan, stok masih aman hingga Lebaran. Meskipun, permintaan meningkat. Yang perlu diantisipasi jika terjadi panic buying, konsumen membeli dalam jumlah banyak di waktu yang bersamaan. "Mau disiapkan berapa banyak pun tidak akan cukup kalau masyarakat panik," tegasnya. (aky/har)