TANJUNG REDEB – Menjelang Idulfitri 1443 Hijriah, penjualan emas mulai merangkak naik. Hal ini disampaikan salah satu pedagang emas di Berau, Nurdahlia.

Dikatakannya, penjualan emas mulai naik seperti sebelum badai pandemi menghantam Bumi Batiwakkal. Saat ini, omzet penjualannya mulai meningkat hingga 50 persen dibanding rata-rata omzet dalam dua tahun terakhir di masa Covid-19.

"Alhamdulillah tahun 2022 khususnya bulan Ramadan ini penjualan sudah kembali ramai," katanya.

Tren pembelian emas lebih tinggi dibanding masyarakat menjual emas. Pasalnya, pemerintah sudah jelas melonggarkan aktivitas mudik, tentu hal ini mempengaruhi penjualan emas. Selain itu, perekonomian masyarakat juga mulai membaik.

"Sekarang penjualan hampir 50 persen meningkat. Berbanding terbalik dengan masyarakat yang menjual emas," ungkapnya.

Dikatakan, perhiasan emas gelang dan cincin, menjadi primadona yang banyak dicari pembeli. Selain itu, penjualan anting dan kalung anak-anak juga tinggi. Sementara harga emas saat ini mencapai Rp 800-900 ribu per gramnya, tergantung kadar emas dan modelnya.

"Semakin tinggi kadar dan semakin update modelnya, harganya semakin mahal," jelasnya.

Hal senada disampaikan Hasan, dari Toko Emas Dilla. Hasan menyebut, penjualan emas meningkat pada 2022. Khususnya menjelang Lebaran Idulfitri. Pada awal pandemi, penjualan di tokonya memang menurun drastis. Bahkan ada masa dalam satu hari tidak ada pembeli.

"Daya beli masyarakat kembali bangkit seperti dulu," ucapnya.

Sementara itu, Eva salah seorang pembeli emas mengaku, sengaja membeli emas, mengingat emas bisa dijual atau digadai, dengan harga yang lebih tinggi. Tentunya Lebaran tahun ini, ia juga ingin tampil modis menggunakan cincin emas yang baru dibelinya.

"Kalau sekarang masih agak sepi, jadi lebih enak mau memilih perhiasan. Untuk investasi juga. Karena emas bisa dijual lagi saat butuh dana darurat," singkatnya. (hmd/udi)