TANJUNG REDEB - Pemerintah Kabupaten Berau merealisasikan intensif para petugas keagamaan. Tahun ini masing-masing menerima Rp 1,2 juta. Hal itu disampaikan Kepala Bagian kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Berau, Syafri, kemarin (28/4).

Dikatakannya, tahun ini memang ada kenaikan untuk insentif petugas keagamaan. Dimana tahun lalu setiap triwulan besaran insentif mereka sebesar Rp 1 juta. Dijelaskannya, selain kenaikan insentif kenaikan penerimanya juga mengalami peningkatan. Tahun ini ada penambahan penerima menjadi 220 orang, dari tahun sebelumnya 176 orang. "Ada kenaikan sebanyak 44 penerima tahun ini," katanya.

Disebutnya, Pemkab Berau menyiapkan total keseluruhan insentif bagi petugas keagamaan tersebut sebesar Rp 1 miliar lebih setiap tahunnya. Petugas keagamaan itu sendiri terdiri dari Imam Masjid, Pastur, Pendeta, Suster, Konghucu, Hindu dan Budha. "Kelima agama yang dikelola pemkab diberikan honor setiap tahunnya," terangnya.

Dijelaskannya, secara teknis pembayarannya diberikan melalui rekening bank mereka masing-masing. Dalam hal ini, pihak Kesra hanya mengelola administrasinya saja. Sehingga memang untuk sekarang ini tidak lagi dipersulit, penyaluran sudah lewat mana saja. "Pokoknya langsung ditransfer semua," jelasnya.

Itu pun hanya ada berkas yang ditandatangani sebagai bukti dari Surat Pertanggungjawaban (SPj). Pemberian intensif ini diberikan bertahap yakni  setiap triwulan sekali. Jadi di daftar penerima anggaran (DPA) diberikan setiap triwulan.

"Saat ini kan proses pemberian triwulan pertama dan triwulan kedua yang dipercepat. Khusus tahun ini kami kejar untuk puasa dan Lebaran. Jadi langsung kami berikan," bebernya.

Pemberian insentif atau honor untuk petugas keagamaan ini juga merupakan salah satu program kerja Bupati dan Wakil Bupati. "Istilah kami kan petugas keagamaan, karena ada semua agama yang dimuat di situ," imbuhnya.

Diakuinya, ada dokumen pelengkap yang dibutuhkan agar mendapatkan insentif ini. Untuk penceramah sendiri harus merupakan rekomendasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Petugas keagamaan sendiri melalui rekomendasi dari Kemenag Berau. Karena Kemenag  yang paling mengetahui bahwa orang tersebut benar Pendeta, atau imam masjid.

"Tetapi khusu Dai memang harus rekomendasi dari MUI. Artinya memang dari binaan MUI. Kecuali dari situ kita tidak berani berikan insetifnya," tegasnya.

Pihak Bagian Kesra Setda Berau sendiri khusus mengelola kelurahan yang ada di 4 kecamatan terdekat. Untuk kampung-kampung sendiri sudah mendapatkan penganggaran dari anggaran dana kampung (ADK)-nya masing-masing.

"Yang terprogram ada empat kecamatan terdekat, tetapi hanya kelurahannya. Seperti Kelurahan Gunung Tabur ada kampung dan ada kelurahannya, jadi kelurahannya saja yang kami kelola," tuturnya.

"Sedangkan petugas keagamaan yang di kampung sudah diprogram dalam ADK-nya setiap tahun," sambungnya.

Ditambahkan Syafri, besaran insentif untuk semua petugas keagamaan tidak ada perbedaan, semua sama rata. Semua petugas yang diberikan insentif dari Pemkab Berau harus memberikan laporan pada setiap semester.

"Laporan mereka setiap semester kami minta sebagai bentuk pertanggungjawaban mereka. Setiap kegiatan yang mereka lakukan, laporannya diberikan kepada kami," tandasnya.

Sementara itu, Imam Masjid Nurul Muttaqin, Siswanto menuturkan, sebagai imam masjid dirinya merasa sangat terbantu dengan adanya honor yang diberikan oleh Pemkab Berau. Ia  mengaku pada dasarnya apa yang dirinya lakukan semata karena iklas dalam memakmurkan masjid, tetapi apabila ada perhatian dari Pemkab Berau maka menjadi motivasi tersendiri. “Apa yang saya lakukan selama ini hanya berdasarkan hati nurani saja,” tuturnya.(mar/har)