ADANYA temuan baru kasus hepatitis misterius yang sudah menyerang 15 anak-anak dan tiga diantaranya meninggal juga menjadi perhatian dr Erva Anggriana, Dokter Ahli Penyakit Infeksi dan Emergining (PIE) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai, Tanjung Redeb.

Saat dikonfirmasi Berau Post pada Rabu (11/5), Erva Anggriana menerangkan bahwa penyakit hepatitis itu memiliki banyak tipe mulai dari hepatitis A,B,C,D dan E. Untuk kasus yang saat ini sedang marak diberbincangkan adalah hepatitis misterius dan itu masih dilakukan pemeriksaan oleh WHO.

Untuk penyakit hepatitis yang biasa terjadi itu menurutnya adalah peredangan pada hati atau yang biasa dipahami masyarakat liver. Dan mengapa seseorang terkena penyakit tersebut ada beberapa faktor penyebab yakni tidak mencuci tangan setelah menggunakan toilet sebelum mengolah makanan atau sebelum makan, mengonsumsi makanan yang terkontaminasi virus hepatitis atau makanan yang tidak diolah hingga matang, dan masih banyak lagi faktor lainnya.

“Berhubungan seksual dengan penderita hepatitis, memiliki lebih dari satu pasangan seksual, sering menerima transfusi darah, terutama bila darah pendonor tidak melalui pemeriksaan ketat atau alat yang digunakan tidak higienis itu juga bisa menjadi penyebab,” jelasnya.

Dijelaskannya, asal mula penyakit tersebut terjadi karena beberapa hal. Mulai dari infeksi virus, kebiasaan mengonsumsi alkohol, penggunaan obat-obatan tertentu, penyakit autoimun, dan infeksi cacing hati. “Jika disebabkan oleh infeksi virus, hepatitis bisa menular ke orang lain, dan itu bisa membahayakan,” tegasnya.

Namun untuk kasus yang baru saja merebak (Hepatitis Misterius),  penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan dan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E tidak ditemukan sebagai penyebab dari penyakit tersebut. Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus, sedangkan 19 kasus terdeteksi adanya ko-infeksi SARS-CoV-2 dan adenovirus. “Jadi saat ini masih didalami kasus hepatitis apa, karena hepatitis yang sudah ada itu tidak ditemukan,” jelasnya.

Untuk bahaya dari penyakit hepatitis menurut Erva masih dalam penyelidikan namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya pada kasus hepatitis akut misterius yang belakangan ditemukan menyerang anak-anak di Eropa, Amerika, dan Asia sejak 15 April lalu.  “Peringatan kewaspadaan tersebut muncul setelah tiga anak yang dirawat di Rumah Sakit yang berada di Jakarta meninggal dengan dugaan terkena hepatitis akut misterius,” katanya.

Pasien tersebut meninggal dalam kurun waktu yang berbeda dengan rentang dua minggu terakhir hingga 30 April 2022. Adapun ketiga pasien merupakan pasien rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Barat. Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah melakukan penelitian lebih lanjut tentang hal tersebut. (aky/har)