TANJUNG REDEB – Menekan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melaksanakan pertemuan dengan jajaran Polres Berau, Rabu (11/5).

Dijelaskan Asisten I Sekretariat Kabupaten (Setkab) Berau Muhhamad Hendratno, selaras dengan adanya pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) di Kalimantan Timur (Kaltim), menjadikan ibu kota sekitarnya termasuk Kabupaten Berau harus menyambut hal tersebut. “Berau juga termasuk heart of Borneo, atau jantung dari Kalimantan jadi kita juga harus antisipasi hal-hal seperti peristiwa karhutla," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, juga diperkenalkan satu aplikasi oleh Polda Kaltim yang dinilai dapat membantu menangani karhutla dengan menyasar langsung Fire Spot (titik api). "Tadi saat rapat diperkenalkan juga aplikasi Lembuswana, nanti yang terbaca adalah fire spot sehingga lebih spesifik dalam penanganan kedepannya," tambahnya.
Hal ini dinilai baik, lantaran aplikasi itu dapat menunjukkan secara langsung di mana ada titik api. Sehingga jika didapati, pelaku pembakaran hutan dapat dengan segera ditemukan serta dapat ditindaklanjuti. "Ini mempercepat identifikasi awal, orang akan lebih berpikir ulang untuk membakar hutan karena dapat terpantau langsung oleh apilikasi tersebut," tandasnya.
Dengan adanya hal ini juga menurutnya, bisa menjadi acuan meminimalisir terjadinya karhutla seperti yang terjadi pada beberapa tahun terkahir ini. “Kita sempat kewalahan dengan bencana karhutla yang terjadi, semoga dengan adanya kegiatan ini bisa menekan terjadinya karhutla di Kabupaten Berau,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Kapolres Berau AKBP Anggoro Wicaksono, mengatakan, kebakaran hutan merupakan bencana dengan indeks resiko yang tinggi. Dikatakannya, hingga akhir Desember 2021 lalu, terdapat 4.357 titik panas di Kalimantan Timur. Ada 73 kebakaran lahan yang didominasi oleh kebakaran lahan kebun, dengan total luas lahan yang terbakar 87,5 hektare. “Menjelang musim kemarau seperti sekarang, kita harus mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang bisa saja terjadi,” katanya.
Diingatkannya juga, semua pihak harus bersiaga, menjaga, dan mengamankan kawasan hutan untuk mencegah terjadinya kebakaran. “Prioritaskan pencegahan serta deteksi dini, dilapangan. Saling berkoordinasi terutama saat memantau area-area titik rawan panas,” tegasnya.
Bukan itu saja, dirinya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan cara dibakar. Pasalnya, itu bisa merambat ke hutan atau lahan lain. “Jadi jangan lagi melakukan pembakaran lahan, karena ditakutkan bisa merambat,” tandasnya. (aky/sam)