TANJUNG REDEB – Sempat bermasalah karena tidak jelasnya sumber dana untuk menggaji supir, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga perawatan, kini tiga bus sekolah merupakan bantuan dari salah satu perusahaan batu bara untuk mengantar75 anak Kampung Sambakungan ke Kampung Merancang Ulu, mulai difungsikan kembali.

Dijelaskan Kepala Kampung Sembakungan, Amiruddin, berdasarkan hasil pertemuan dengan pihak kecamatan, dan Polsek Gunung Tabur, disepakati biaya BBM bus akan disediakan oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMK).
Padahal disebutnya, sebelumnya direncanakan biaya tersebut akan dipungut dari masing-masing orangtua anak, di mana setiap anak dikenakan biaya Rp 150 ribu dan harus menambah Rp 25 ribu lagi jika memiliki anak lebih dari satu.
Namun hal itu mendapat penolakan dari orangtua siswa. “Jadi kita sempat bingung, mau dapat anggaran darimana untuk BBM dan perawatannya. Akhirnya dalam rapat, BUMK harus mencari sampingan untuk membiayai bus itu,” jelasnya, Rabu (11/5).
Lanjutnya, solusi lain atas persoalan ini dalam rapat itu ialah, mengajukan pembangunan SMP di Kampung Sambakungan.
Sementara menurut Camat Gunung Tabur, Mardiatul Idalisah, penarikan retribusi pada masing-masing siswa tidak masalah. Namun karena banyak yang menolak, akhirnya dicarikan solusi lain agar anak-anak tersebut busa tetap bersekolah. “Inikan sebenarnya untuk pendidikan anak-anak juga,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Berau, Murjanimmengungkapkan, dirinya sudah mengetahui hal tersebut, namun dia menyayangkan pihaknya tidak diundang dalam rapat tersebut.
Atas persoalan yang terjadi, menurutnya salah satu solusi sementara yang dapat dilakukan ialah membangun asrama di Kampung Merancang Ulu, untuk para pelajar tersebut agar tidak terlalu jauh untuk ke sekolah.
“Nanti akan kami coba koordinasikan soal pembangunan asrama ini. Kalau untuk permintaan pembangunan SMA kita masih berhitung, apakah sudah layak dibangun sekolah di sana. Ada perhitungan juga,” pungkasnya. (hmd/sam)