Idulfitri merupakan hari kemenangan bagi umat muslim. Hari kemenangan usai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Namun di Kampung Harapan Jaya, Idulfitri tidak hanya dirayakan umat muslim saja. Masyarakat lintas suku dan agama di sana, akan ikut merayakan hari-hari besar keagamaan, guna melestarikan toleransi di masyarakat.

 

ADRIAN, Segah 

 

Dalam benak Ipalko Tumanan, anak muda Kristen asal Toraja, perayaan Idulfitri di Kampung Harapan Jaya adalah momen penuh kegembiraan yang tak boleh dilewatkan. Saking pentingnya Idulfitri, seperti halnya umat muslim, Ipalko merasa sedih jika tak bisa mudik. 

“Saya kan kuliah di Samarinda. Nah, kalau Lebaran itu saya pasti mudik. Saya kalau tidak mudik saat Idulfitri, entah kenapa rasanya saya kayak sedih gitu. Mungkin karena faktor sudah terbiasa ikut merayakan Idulfitri sejak dulu ya? Padahal itu kan bukan hari raya agama saya,” tutur Ipalko, baru-baru ini. 

Dengan semangatnya, suara agak meninggi dan senyum tak putus-putus, dia menceritakan keseruan merayakan hari raya di kampungnya. Saat Idulfitri, dia dan anak muda Toraja lainnya kerap berkunjung ke rumah teman mereka yang muslim. Kalau Natal tiba, giliran teman-temannya yang muslim gantian berkunjung.

“Ini sudah berlangsung sejak saya masih kecil, orangtua kami sudah melakukan dan mencontohkannya sejak lama. Kami selalu diajarkan untuk saling menghargai perbedaan dan mencintai antarsesama. Salah satu caranya dengan menghargai dan ikut merayakan Idulfitri. Jadi toleransinya di sini (Kampung Harapan Jaya) masih sangat kuat,” ungkapnya. 

Pemuda 24 tahun itu mengenang masa kecilnya yang bahagia turut merayakan Idulfitri bersama teman-temannya. Biasanya mereka saat berlebaran, turut mendapat angpau dari warga muslim yang dikunjungi. Setelah seharian keliling kampung, meraka saling bertanya berapa angpau yang kami dapatkan. Siapa yang paling banyak akan merasa lebih hebat.

Selain dapat uang jajan, Ipalko dan teman-temannya gembira diperbolehkan membawa pulang makanan dan minuman milik warga muslim yang dikunjungi. Dia mengenang serunya mereka memakan makanan yang dibawa pulang di jalan, sambil berjalan ke rumah warga lainnya.

“Kadang kami bawa kresek untuk menyimpan makanan atau minuman yang kami suka, dan tidak jarang kami rebutan. Sampai kadang ditegur juga sama yang punya rumah, agar tidak berebut,” ucapnya lalu tertawa.

Seiring waktu, kini Ipalko dan temannya di kampung punya kesibukan masing-masing. Mereka jarang kumpul bersama seperti dulu. Meski begitu, bagi Ipalko kegembiraan merayakan Idulfitri tidak berkurang sama sekali. 

“Saya selalu gembira, dan yang lebih membuat gembira itu, dari dulu sampai sekarang warga tidak berubah. Masih menyambut kami dengan baik tanpa membeda-bedakan suku dan agama. Di sini masih sama seperti dulu,” tuturnya.

Meski belakangan, ada sebagian masyarakat Indonesia yang melarang bagi umat muslim memberikan ucapan Natal dan saling berkunjung saat Natal, hal itu tak berlaku di Kampung Harapan Jaya. Mereka lebih memilih tetap menjalankan sikap dan tradisi saling berkunjung saat perayaan hari besar agama yang beragam.

“Ketika Natal, warga muslim juga ikut memeriahkan dengan datang ke rumah mereka. Misalnya seperti istri saya beberapa kali datang memenuhi undangan dari warga nonmuslim di Trans Timur saat Natal,” kata M Ridwan, tokoh Agama Islam di Kampung Harapan Jaya.

Menurut dia, dimulai setelah Salat Idulfitri, masyarakat akan mendatangi rumah-rumah warga untuk bersilaturahmi guna saling memaafkan, hingga lebaran hari ketiga. Jadi selama itu masyarakat akan ada berada di rumah, menunggu tamu yang datang dari berbagai umat beragama. 

BERTANI BERSAMA

Kampung Harapan Jaya yang terletak di Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, memiliki nilai-nilai ‘khas’ yang mampu menjadikan masyarakatnya harmonis di tengah keberagaman. Sebagai warga daerah transmigrasi, mereka menerapkan prinsip kesetaraan, saling percaya, dan saling memiliki dalam merawat keharmonisan di tengah beragam perbedaan. 

Pertanian menjadi sektor pendapatan andalan bagi masyarakat Kampung Harapan Jaya. Uniknya, pertanian yang diterapkan tidak mengedepankan kepemilikan pribadi. Melainkan mengusung konsep pertanian dengan prinsip kerja sama antar-individu, sehingga mampu mempererat hubungan antar-masyarakat lintas suku dan agama. 

Yohanes Tuerah, Pendeta sekaligus Pembina Umat Kristen di Harapan Jaya, mengatakan bahwa di kampungnya terdapat kearifan lokal yang dikenal dengan istilah pengelolaan kebun bersama. Dalam proses pengelolaan kebun bersama, terlebih dulu akan dilakukan proses tawar-menawar antara pemilik kebun dan si pengelola kebun. Hingga diperoleh kesepakatan dalam perjanjian berdasarkan prinsip saling menguntungkan.

“Jadi mau dia suku dan agama apapun, orang terlebih dulu akan memberi penawaran agar kebun dikelola secara bersama. Sehingga ini mampu menyatukan masyarakat di sini (Kampung Harapan Jaya),” tuturnya.           

Selain itu, masyarakat membentuk kelompok tani yang terdiri dari berbagai latar belakang suku dan agama. Para anggota bertani secara bersama-sama dalam satu lokasi lahan. Menurut Yohanes, kelompok tani menjadi ruang perjumpaan sebagai sarana efektif membangun komunikasi lintas-agama dan suku. 

“Biasanya kan warga muslim ada kecenderungan tidak mau makan makanan yang dimasak oleh warga yang bukan muslim, karena takut perabotan atau lainnya bekas masak makanan tidak halal. Tapi di sini nggak seperti itu. Beberapa kali anggota kelompok tani rapat di rumah saya, saya suguhkan makanan dan minuman itu, semuanya habis dimakan,” tutur Yohanes. 

Bertani bersama dan makan bersama menjadi aktivitas sehari-hari warga lintas suku dan agama. Kesetaraan menjadi nilai-nilai dasar yang diterapkan. Sebagaimana cerita Aminah, petani perempuan di Kampung Harapan Jaya.

“Lahan pertanian di sini dikenal dengan sebutan persawahan. Jadi di persawahan itu kita bertani secara bersama-sama. Ada dari suku Bugis, Jawa, Toraja, Lombok, dan lain-lain. Saat menanam padi kita bersama-sama, dan makan pun secara bersama di tengah sawah,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa warga lintas agama bersikap saling percaya. “Jadi tidak ada yang namanya kita merasa takut makan. Karena mereka yang bukan muslim pasti mengerti, tidak mungkin masak makanan yang tidak dimakan oleh warga muslim,” ujar Aminah.

DULU MINIM INTERAKSI

Para transmigran dari beberapa daerah datang ke Kampung Harapan Jaya secara bertahap. Ahmad Sukaji, Penanggung Jawab Pembentukan Kampung dan Transmigrasi, mengatakan bahwa proses transmigrasi di Kampung Harapan Jaya dibagi menjadi empat gelombang. 

Gelombang pertama, dimulai pada tahun 1997 datang 100 KK transmigran dari Pulau Jawa. Kemudian gelombang kedua, pada tahun 1998 dengan jumlah 75 KK yang berasal dari Pulau Nusa Tenggara Barat (NTB). Selanjutnya gelombang ketiga, pada tahun 1999 dengan jumlah 75 KK yang berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Terakhir gelombang keempat, pada tahun 2000 dengan jumlah 25 KK yang berasal dari warga lokal (Dayak) dan pekerja eks PT Sumalindo yang telah dirumahkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, syarat-syarat pembentukan suatu kampung dapat terpenuhi, sehingga pada 1 April 2001 Kampung Harapan Jaya resmi terbentuk dengan jumlah 376 KK.  

Lebih lanjut Sukaji menjelaskan, masyarakat transmigrasi yang didatangkan dari berbagai pulau tersebut ditempatkan oleh pemerintah secara terpisah, sesuai dengan latar belakang sukunya. Di mana satu tempat dikhususkan untuk masyarakat dari Pulau Jawa, dan satu tempat lagi dikhususkan untuk masyarakat dari Lombok NTB dan seterusnya. Hal ini kemudian memunculkan sebutan Trans Jawa, Trans Lombok dan Trans Timur di Kampung Harapan Jaya.

“Di awal pembentukan kampung, setiap suku saling mengedepankan nilai-nilai kesukuannya masing-masing, agar dapat diterapkan menjadi sebuah aturan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, hal itu tidak terjadi lagi, karena interaksi sosial dan ekonomi lintas suku dan agama semakin aktif dan erat,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Baiq Sulistiani, warga transmigrasi asal NTB mengatakan, di awal proses transmigrasi, interaksi sosial masyarakat lintas suku atau agama terbatas. Kebanyakan masyarakat berinteraksi dengan sesama suku atau seagamanya saja, dikarenakan jarak antartempat yang satu dengan yang lain cukup jauh. Akses jalan saat itu belum memadai. Sehingga hal ini membuat banyak orang tidak banyak mengenal masyarakat dari suku atau agama yang lain, walau berada dalam satu kampung.

“Dulu jangankan kenal dengan warga dari suku dan agama yang lain. Dengan warga yang sesama suku dan agama saja kita tidak banyak saling mengenal, karena jarak rumah itu jauh dan sekeliling kita hutan semua,” katanya.   

KOMUNIKASI HILANGKAN PRASANGKA

Dosen Ilmu Komunikasi dari Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Timur, Syaikhu Nuris, mengatakan tidak semua daerah yang memiliki keberagaman agama dan suku bisa harmonis. Hal ini disebabkan buruknya komunikasi antarindividu atau kelompok lintas suku dan agama. 

Menurut dia secara umum terdapat tiga faktor yang menjadi hambatan, dalam proses komunikasi antarbudaya dan antaragama. Pertama, adanya prasangka yang tidak baik terhadap individu atau kelompok dari suku atau agama yang lain. Kedua, stereotipe, yakni penilaian buruk dan tidak seimbang terhadap suatu kelompok tertentu. Ketiga, etnosentris, yakni adanya perasaan suatu kelompok lebih superior dibandingkan dengan kelompok yang lain. 

“Ketiga hambatan tersebut apabila tidak diantisipasi, dapat memicu terjadinya konflik dalam masyarakat beragam,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, ketiga hambatan itu bisa dihilangkan apabila terjalin komunikasi yang efektif. Beberapa ciri komunikasi efektif adalah keterbukaan, empati, dukungan, berpikir positif, dan kesetaraan. 

“Jika kita melihat masyarakat di Kampung Harapan Jaya, beberapa ciri dari komunikasi yang efektif itu dapat kita temukan. Misalnya saling tolong-menolong dalam menanam padi, melakukan gotong-royong bersama, berkebun bersama, membentuk kelompok tani, berpikiran positif terhadap suku atau agama yang lain dan lain-lain. Sehingga hal ini mampu menjadikan masyarakat di kampung itu dapat hidup secara berdampingan, di tengah keberagaman,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Kampung Harapan Jaya, Ali Sasmirul, menilai bahwa pemuka agama dan ketua-ketua adat di kampungnya, berperan penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang keberagaman dan toleransi. “Jadi tokoh agama dan kepala suku inilah, yang membawa sukunya dalam berinteraksi dan menjalin relasi harmonis dengan agama dan suku lainnya,” ujar dia saat ditemui di kantornya.

Menurut dia tokoh agama dan pimpinan adat di Kampung Harapan Jaya menginternalisasikan nilai-nilai universal, sehingga menciptakan kerukunan. Pendekatan dialogis antartokoh dilaksanakan melalui berbagai forum, satu di antaranya adalah Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika). Nilai-nilai keberagaman dan toleransi diinternalisasikan melalui berbagai saluran dakwah, seperti pengajian, majelis ilmu, dan khotbah Jumat, serta peribadatan mingguan umat Nasrani dan lainnya. 

“Melalui Muspika kita cukup sering mengadakan pertemuan dan diskusi, dengan berbagai tokoh agama dan suku. Selain bertujuan untuk membahas situasi dan kondisi kampung, juga bertujuan untuk mempererat jalinan silaturrahmi antarsuku dan agama di sini,” ucapnya. (*/udi)