TANJUNG REDEB – Tanaman kelor atau moringa oleifera lam, jadi salah satu komoditas perkebunan yang tumbuh secara alami di lahan-lahan marginal atau pada berbagai tipe habitat lahan. Masyarakat memanfaatkan bagian tanaman kelor untuk bahan sayur dan pakan ternak alami. Di Berau juga cukup banyak tanaman jenis kelor. Bahkan tidak sedikit warga percaya bahwa kelor memiliki kekuatan yang berbau mistis.

Namun, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Berau, Junaidi berusaha mengubah stigma tersebut. Melalui program pembelajaran petani perbenihan budidaya tanaman kelor dan pascapanen serta pemasarannya. Kegiatan ini sendiri digelar di Ruang Sangalaki, Kantor Bupati Berau, Selasa (22/11). Hadir dalam kegiatan tersebut, Asisten I Setkab Berau Hendratno dan Direktur Industri Kelor, CV Tri Utami Jaya, Nasrin, selaku pembicara.

Menurut Nasrin, daun kelor memiliki 300 manfaat bagi tubuh manusia. Salah satunya untuk mencerahkan wajah dan mencegah penyakit kanker. Hal ini bahkan sudah dibuktikan sampai ke luar negeri.

“Potensi daun kelor selama ini banyak tidak diketahui, jadi dengan adanya pemaparan ini, saya harap teman-teman bisa mengelola dengan baik,” katanya.

Perlu diketahui, industri daun kelor yang dikelola CV Tri Utami Jaya yang memiliki pabrik pengolahan daun kelor berstandar internasional terbesar, pertama, dan satu-satunya di NTB. Saat ini pabrik Tri Utami Jaya memiliki kapasitas produksi 200 ton per hari. “Jika Berau mau, sudah pasti bisa,” ujarnya.

Kelor juga mudah ditanam di mana-mana, apalagi dibudidayakan dalam bentuk perkebunan. Namun Nasrin menyayangkan potensi ekonomi olahan daun kelor yang sangat besar di Berau, belum digarap baik. “Daun ini banyak tumbuh di mana-dimana, perawatannya mudah, namun menghasilkan rupiah yang cukup banyak,” bebernya.

Ditambahkan Nasrin, saat ini usaha jamu dan kelornya sudah melanglang ke 13 negara. Industri kelor yang dia bangun sudah menyerap 50 tenaga kerja dan ratusan tenaga kerja di lahan penyuplai bahan bakunya. Perusaannya juga telah menjalin MoU dengan 17 mitra petani di pulau Lombok dan Sumbawa, dengan luas lahan sebanyak 150 hektare.

“Industrialisasi itu bukan hanya pabrik besar yang berkapasitas ratusan hingga ribuan orang. Namun sederhana dilakukan oleh orang-orang yang sederhana yang memiliki semangat dan tekad. Saya yakin Berau siap. Dan saya juga siap membantu,” katanya.

Terpisah, Kepala Distanak Berau Junaidi mengatakan, tidak ada industrialisasi tanpa inovasi, sains, dan teknologi. Dalam teori industrialisasi, yang pertama adalah permesinan. Namun industrialisasi itu bukanlah permesinan. Tetapi permesinan adalah dasar dari industrialisasi. Penerapannya adalah produktivitas di sektor pertanian, seperti pemanfaatan daun kelor ini.

“Ini juga bisa menambah perekonomian masyarakat Berau, selain sektor jagung, dan padi,” bebernya.

Lebih lanjut, Junaidi menegaskan bahwa industrialisasi sederhana yang dimaksud adalah bagaimana petani mampu meningkatkan produktivitas. Seperti industrialisasi kelor ini, akhirnya mampu membuka kesempatan kerja bagi ratusan warga di Berau. “Ke depannya, akan dibuka pabrik,” jelasnya.

Kegiatan pelatihan ini sendiri berlangsung selama dua hari, yakni Selasa (22/11) hingga Rabu (23/11). Dijelaskan Junaidi, bila potensi lain mampu dikembangkan dan dibangun industrialisasi, maka akan banyak membuka peluang dan kesempatan kerja bagi ribuan masyarakat Berau. “Makanya kami juga berharap dukungan dari bupati Berau. Agar program ini bisa berjalan dengan membuka pabrik pengelolaan daun kelor,” pungkasnya. (adv/hmd/udi)